pikiranku

Things I Currently Want

I’ve abandoned my blog for a while now.. I dug in my long list of drafts and found a post about things that I wanted back in 2009. So I thought why not finish this and update it with the things that I want now. Then I realized an interesting thing about that list (more about that later) and I decide to write a new list from scratch.

Here is the things that I want (not in any particular order) and why:

  1. Apple 15-inch MacBook Pro
    My desktop computer in Jakarta will be 9 years old this July. (Can you believe it?!) It is my first and only computer I have ever had so far and it already amazed me that it is still running after all this years. Now I work in Kuala Lumpur I use my office laptop all the time and only use that old desktop when I go back home once in a while. I don’t like to use office laptop to do my own things. You know…personal stuffs get scrambled and mixed with work stuffs.. Plus, you can’t just do anything you like on office laptop, can you? I definitely need a new computer and I want a 15-inch Apple MacBook Pro. I like MacBook since the white & black polycarbonate model and I really decided to get one when Apple launched the aluminium unibody models. With Apple just upgraded its MacBook Pros at WWDC last June and OS X Mountain Lion is already out there has never been a better time to get a new Mac. I hope I can get it within this year.
  2. Samsung Galaxy S III
    It is a great android phone! I followed every rumors I could find before its launch. I watched the launching video. I watched the ads. I amazed by its specs, features, design changes from earlier model, etc. I couldn’t wait until it arrives here to try it myself and when it finally did, I tried & played with it several times. It is a great phone! But it is not without complain, I felt that the phone is too big (or tall) to be used single-handedly, my thumb just couldn’t reach some area of the screen without moving the phone and, you know, risking to drop it. But that is only a minor “downside” if anything and I can live with that. My current phone is LG Optimus ME by the way, which has served me well so far.
  3. Micro SD card
    Galaxy S III has “only” 16 GB internal storage. That might be enough but since it comes with micro SD card slot why not use it? Who knows 16 GB will not be enough for me. 😉 Unfortunately micro SD card is not included in the retail package of GSIII so I have to get it separately. Here I want a micro SD card just in case the 16GB internal storage of the GSIII is not enough. (lebih…)
Iklan

Siapa yang Salah?

Gue inget dulu waktu gue pulang kerja gue liat tulisan di jembatan penyeberangan di atas tol yang isinya

Pemberi dan penerima suap sama-sama melanggar hukum.

Abis baca itu terbesit di pikiran gue, “penegak hukumnya?“

Gemana kalo penegak hukumnya membiarkan orang memberi dan menerima suap? Ada ga ya hukum yang mewajibkan penegak hukum menindak pemberi dan penerima suap? Gemana pendapat Anda?

Between My Mother and My Wife

Yesterday I was asked a question like this:

“You are in a boat with your wife & your mother, the boat is sinking quickly. You can swim but your wife & your mother can’t swim. You can only take one person with you. Who would you take?”

My first reaction after hearing this question is “OK..this is kinda like those illustrations in the book 101 Ethical Dilemmas” and I was silent for a while.. That was a really hard choice. If I really have to choose that is really really hard.. But then I answered I would take my mom. Being asked why, I answered “because without my mom I couldn’t be what I am today. I love both my wife and my mom but my mom is my priority.”

Honestly there was a split second when I thought I would take my wife because I thought that was realistic for the sake of human race continuation (you know, regeneration, reproduction.. that kind of things). I assumed my mom is older than my wife and my wife has a (arguably) longer future ahead etc etc.. If you watched “I, Robot” starring Will Smith you might know what I’m trying to say here. But then again, my answer to that question at that time was I choose my mother.

Back home, when I was in bed trying to sleep that question popped in my mind again.. I thought.. and rethought.. then I changed my mind. I think that it doesn’t matter whoever I choose to take I will lose someone I love in the end. And I don’t like that. I would rather spend the last minutes of my life together with them rather than spend the rest of my life losing one of them. So my final answer (up until I write this post) is I would be in the boat with my wife & my mother and.. you know.. sink (read: die) together. You may call that pathetic, ironic, selfish, or whatever.. but that is my answer. What do you think?

Kepercayaan Konyol Nyokap tentang Melayat

Hari ini gue ngelayat temen kantor gue. Paginya waktu masih di rumah gue ga bilang ke nyokap kalau mau ngelayat, gue bilangnya waktu kami lagi jalan mau berangkat kerja bareng. Dan muka nyokap gue terlihat terkejut seperti lupa menyiapkan sesuatu yang penting untuk anaknya. Lalu nyokap metik daun dari taneman pendek entah gue ga tau namanya dan ngasih tuh daun ke gue untuk disimpen. Tadinya tuh daun mau gue buang tapi gue inget perintah Tuhan “Hormatilah ibu bapakmu!”.. Err.. Damn!

Gue udah tau tentang takhayul / kepercayaan atau yang menurut dia “tradisi” ini udah lama. Biasanya waktu kami mau ngelayat dia nyiapin beras & garam yang dibungkus kertas merah seukuran satu ruas jari untuk disimpen di kantong. Waktu abis pulang ngelayat juga biasanya kami dilarang langsung masuk ke rumah dan harus cuci-cuci muka, tangan, dan kaki di teras pake air yang udah ditaro bunga / daun dari taneman yang gue ga tau namanya itu (tapi belakangan cuma pake air biasa aja). Dan begitu masuk rumah kami biasanya langsung mandi dan baju-baju kami langsung dipisahin dari baju kotor lainnya. Waktu dulu gue tanya kenapa begini kenapa begitu nyokap ga gitu bisa jawab, jawabannya seinget gue “biar ga diikutin”, “udah lakuin aja”, “itu tradisi dari orang tua”, “soalnya rumah duka itu kotor, banyak kuman-kuman dari mayat”, dll. Dan karena dulu gue masih cuek dan ga gitu kritis ya gue nurut-nurut aja.

Gue udah melayat cukup banyak kali. Dan semakin lama gue makin nganggep melayat ya kayak kegiatan biasa aja, gue bersimpati & ikut berduka cita kepada pihak yang ditinggalkan, ikut “mengantar” arwah yang meninggal dengan ikut ibadah, ramah tamah, makan minum, bahkan ketawa-ketawa (awalnya gue juga ngerasa aneh tapi ya buat apa sedih terus). Tapi sepertinya buat nyokap gue kegiatan melayat itu kegiatan yang penuh dengan “ritual-ritual” aneh-aneh yang gue ga pernah (dan ga mau) ngerti. Mau pergi melayat ya pergi aja, yang penting berpakaian layak & bisa bersikap aja. Kalau pulang dari melayat ya pulang aja, sama aja kayak abis pulang kuliah, pulang kerja, pulang main, dll. Kalo kotor ya mandi, kalo laper ya makan, dst dst.. Ngapain juga ngelakuin hal-hal konyol tak berdasar gitu.. Toh gue & nyokap udah beragama Katolik sejak lama.. ngapain lagi masih ngikutin tradisi-tradisi tak relevan itu?! Sayangnya nyokap gue ga berpikir demikian.

Dan hari inilah puncak kemuakan gue.. Pulang dari kantor, capek, laper.. udah seneng tuh hari ini jam pulangnya normal lagi.. Eeehh.. sampe rumah, masih di teras.. nyokap udah teriak dari lantai atas nyuruh gue langsung mandi dan taro baju kotor di tempat cucian. Gue dilarang makan dulu dan nyokap bener-bener nungguin gue sampe gue naik ke atas. Setiap waktu yang gue habiskan di lantai bawah membuat nyokap gue teriak nyuruh-nyuruh lagi. “Ini apa-apaan sih nyokap”, pikir gue dalam hati. Sampai di atas gue baru tau kalo nyokap teriak dari kamarnya. Gue tau nyokap pasti ga mao ketemu gue sebelom gue mandi karena dulu gue juga pernah disuru “ngumpet” waktu nyokap baru pulang dari melayat. Waktu gue naro tas di lantai nyokap gue teriak lagi, “Jangan masuk kamar (gue) dulu ya!” “ANJRITTTTT.. ni nyokap parno banget seh!!” Pengen rasanya gue langsung masuk kamar nyokap gue semprot abis-abisan tapi gue teringat tentang “Hormatilah ibu bapakmu” itu.. haahhh..

Ya udah gue mandi sambil dalem hati kesel setengah mampus.. “Kayak apaan aja!” “Ketakutan banget gue diikutin setan!” “Gue punya hak untuk makan dulu!” “Gue punya hak untuk masuk kamar gue dulu!” “Hari gini masih percaya gitu-gituan?!” “Percaya ya percaya sendiri aja, ga usah memaksakan hal itu ke gue!” pikiran-pikiran & perasaan-perasaan kesel & marah berkecamuk di kepala gue. Tapi air yang mengaliri kepala & badan gue cukup mampu meredakan sedikit amarah gue.. Gue bilang ke diri gue sendiri “Ini terakhir kalinya.. Ini terakhir kalinya gue mau nurutin kekonyolan-kekonyolan ini! Gue yang nentuin gue mau ngapain aja, bukan nyokap gue!”

Abis mandi gue turun untuk makan malam dan gue langsung bilang ke nyokap kalo ini terakhir kalinya gue mau ngelakuin ini semua, kali berikutnya gue disuruh ini itu gue ga bakal mau lagi. Gue ngomong dengan suara yang sebisa mungkin gue tahan jangan sampe teriak, tapi suara gue masih terdengar kenceng sih. Gakpapa lah.. Biar nyokap gue bener-bener tau gue ga percaya, ga mau tau, ga mau inget hal-hal itu lagi. Soalnya setiap kali gue bilang baik-baik gue ga mau & ga percaya nyokap tetep aja memaksakan hal itu ke gue.

Alasan gue ga mau lakuin hal-hal aneh itu gampang, sederhana, dan masuk akal. “Kenapa?”, nyokap gue ga bisa jawab, jawaban nyokap gue bukan jawaban menurut gue, itu cuma alasan. “Buat apa?”, gue ga melihat kegunaan / manfaat melakukan hal-hal itu. “Tradisi” ini harus dihilangkan! Setidaknya boleh-boleh aja orang lain percaya tapi jangan paksain gue untuk percaya/ngelakuin hal itu. Sampai ada alasan jelas tentang itu semua gue ga akan mau lagi ngelakuin hal-hal bodoh macam itu. Pergi melayat ya pergi aja, pulang dari melayat ya juga pulang aja. Itu cuma kegiatan biasa kok!

Tentang Tulisan The Lady

Beberapa hari yang lalu gue nulis tentang cewe cakep di kantor tempat gue magang. Di situ gue nulis kalo kecil kemungkinannya tulisan gue dibaca oleh temen kantor tapi sepertinya itu ga berlaku lagi kali ini.. Buktinya kemaren gue dapet komentar dari temen magang bareng yang isinya “kayaknya gue tau” dan hari ini gue dapet komentar dari temen magang bareng yang lain lagi yang isinya “gue tau siapa orangnya”. Yang berlaku adalah tulisan gue yang bilang kalau temen kantor baca pasti bakal dengan mudah tau siapa dia. Untung sejauh ini yang komentar itu temen binus yang sama-sama magang bareng.

Komentar sih emang cuma dua tapi pasti yang udah baca tulisan gue tanpa komen lebih banyak lagi. Kemaren pas chat ama dede mau cerita tentang dia ternyata dede gue juga udah tau karena baca blog gue dan tadi pas kuliah temen sekelas tanya gemana magang gue plus tanya / ngeledek tentang dia karena temen gue itu baca note gue di fb.

Sebelomnya gue selalu ngerasa tulisan gue “aman” dari temen-temen gue. Udah gue publicize di twitter, facebook, status ym, dll tetep aja ga ada yang komentar atau ngebahas. Selama ini komentar-komentar justru kebanyakan datang dari orang yang ga gue kenal. Mungkin temen-temen gue emang pernah baca tapi ngerasa tulisan gue selama ini belum menarik kali..

Karena merasa “aman” itulah gue berani nulis tulisan yang kemaren itu.. tapi gue sadar sih tulisan gue emang bisa dibaca siapa aja cuman ga nyangka aja tulisan yang itu yang justru dibaca & dikementari oleh temen-temen gue. Selaen itu gue juga orangnya agak tertutup.. Bukan tertutup gemana sih.. Gue sih pengen-pengen aja bisa curhat bebas lepas ke temen tapi biasanya tiap kali gue mencoba curhat lisan apa yang gue ucapkan itu berbeda dengan apa yang mau gue utarakan / ceritakan. Jadi rada-rada ga nyambung deh curhatnya.. makanya gue lebih sering memilih diam dari pada curhat ke temen. Mungkin gue harus kursus ngomong dulu kali ya biar curhatnya lancar. hahaha..

Kalo dipikir-pikir gue nulis blog ini juga dengan harapan supaya temen-temen & orang lain bisa tau apa yang gue pikirkan & rasakan tanpa harus ngomong langsung ke temen-temen. Gue kalo nulis blog masih lom lancar sih tapi masih lebih mending dari pada kalo ngomong langsung ke orang lain. Lagian kalau blog kan bisa dibaca siapa aja, kalau ngomong langsung palingan cuma didenger beberapa orang aja. Selama ini sih harapan gue itu jarang terwujud.. Ya iya lah.. siapa juga yang mau rajin-rajin baca blog gue buat tau pikiran & perasaan gue.. Yang butuh diketahui pikiran & perasaannya itu siapa, gue atau temen gue?! hahaha… Gue juga pernah baca kata-kata mutiara kira-kira kayak gini “Jangan mengharapkan orang lain tahu apa yang kamu inginkan tanpa kamu terlebih dahulu mengatakannya.” Kayaknya kata-kata itu cocok dengan situasi gue selama ini. Sampai gue nulis tentang the lady…

Mungkin kalo yang komen itu ga tau siapa the lady gue masih biasa-biasa aja.. tapi beberapa hari ini yang komen justru yang tau siapa the lady. Entah lah.. gue jadi ngerasa gemana gitu.. rada nyesel juga udah nulis tapi engga juga.. Gue jadi berasa aneh aja.. mungkin lom terbiasa kali ya perasaan pribadi gue diketahui oleh temen gue.. Aneh ya, kalo orang ga dikenal yang baca & komen mungkin gue bakal berasa “aman” & biasa aja. Kalo temen gue yang komen tapi ga tau siapa the lady gue juga berasa biasa aja. Nah ini temen yang tau the lady yang komen gue jadi berasa gemana gituu.. Gemana kalo the lady-nya sendiri yang tiba-tiba baca & komen.. gue ga tau deh bakal berasa gemana..

Ya udah lah.. toh komentar dari 2 orang temen magang gue belum dan semoga tidak menimbulkan akibat yang tidak terduga / tak diinginkan  jadi ya biarin & jalani aja. Gue sih ga bakal ngapus komentar mereka atau ngapus tulisan gue itu. Gue orangnya fair-fair aja lah. Gue yang bikin tulisan gue bisa dibaca siapa aja & bisa dikomentari siapa aja, gue juga yang publicize di facebook & twitter jadi ya itu “resiko” yang harus gue “tanggung”. Mungkin lama-lama gue bakal terbiasa saat temen-temen tahu perasaan & pikiran gue lewat tulisan-tulisan di blog ini. (Asik juga kali ya! jadi gue ga usah susah-susah menyebarkan ide gue atau ga usah susah-susah cerita tentang perasaan gue lagi.. cukup lewat blog aja. :-p )

About Me and This Blog

As you may realized (or as I actually realized for a long time) my effort to keep this blog filled with new posts is weaker and weaker and weaker.. Some because I’ve been busy and the internet is sucks.. Well, you know it’s me making excuses..

The real reason is I’m to lazy to write something. Not that I don’t have anything to write, I have a lot of actually—my life, my ideas, my feelings—but you know it takes a lot if time for me to write and publish even a single post (I think I’m not a good writer / blogger.. yet) and most of the time when I couldn’t make it in one shot the post I was writing would end in the draft and would stay there for a loooong time. As the time goes by I have no longer interest to write about it anymore. So yeah.. that makes my blog the way it is now..

The internet thing is also true.. Once I came up with something and wanna write it but the internet acting up that it makes my mood bad and you know the rest of the story…