Happy New Year 2014

Well, I know this is late but it’s better that never, right?

I just want to say Happy New Year to you all! Hope you all had a wonderful 2013 and ready for 2014!

As for this blog, it’s the same (or maybe worst) story. I think I wrote the least last year. My old desktop just can’t make it anymore and my new job is quite busy. I’ll stop writing any more excuses and again, wish you a great new year ahead!

Regards,egomaniac

 

2013 in review

I know it is February but maybe it is still OK to look back at what happened to this blog last year. The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 20,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 7 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Daya Tahan Bahasa Uang

Originally posted on Rubrik Bahasa:

Majalah Tempo, 7 Apr 2013. Rohman Budijanto, Wartawan Jawa Pos

Pembicaraan bahasa uang kini riuh. Keputusan pemerintah untuk melakukan redenominasi menjadi obrolan publik. Rupiah memang sudah masuk kategori “uang sampah” karena nilainya rendah terlalu banyak nol. Penghilangan tiga nol dari rupiah bisa meningkatkan gengsi mata uang kita.

Satu rupiah, yang resminya masih 100 sen, memang nyaris tak bernilai. Satu rupiah saja sulit dibayangkan nilainya, apalagi satu sen. Tapi, jika rupiah sudah dihilangkan tiga nol, agak lumayan nilainya. Satu rupiah baru akan senilai Rp 1.000 sekarang. Bila Anas Urbaningrum bilang, “Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas,” agak mudah dinilai dengan uang baru.

View original 547 more words

Menit-menit yang luput dari catatan sejarah Indonesia

Originally posted on Padepokan Kafil Yamin:

Pengantar:

Bukanlah maksud saya hendak mengutik-ngutik ‘nasi yang sudah menjadi bubur’ dengan tulisan ini. Semata-mata saya bersaksi. Kesaksian harus disampaikan, betapapun tidak populernya. Betapapun terpinggirkannya. Kebetulan saya saksi. Saksi harus bicara.

Atau, kalau kata ‘kesaksian’ terdengar teralu resmi. Ya sudah, saya menuliskan sebuah kenangan saja. Namun lebih dari itu semua, saya merasa ada pelajaran sangat berharga dari beberapa saat di masa lalu ini. Dan saya ingin orang-orang muda Indonesia belajar sesuatu dari ini.

‘Nasi sudah menjadi bubur’ yang saya maksud adalah Timor Timur, yang sekarang bernama Timor Leste.

SAYA dikirim kantor berita saya, the IPS Asia-Pacific, Bangkok, pada tanggal 28 Agustus 1999, untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999.

Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun…

View original 3.723 more words